Trump Aktifkan “Donroe Doctrine”, Dunia Barat Masuk Mode Siaga
Washington kembali panas. Donald Trump memulai periode keduanya dengan satu pesan keras: Amerika kembali pegang kendali, pakai cara lama—paksa dan frontal. Presiden Venezuela ditangkap. Ancaman dilontarkan ke Iran, Meksiko, Kuba, Greenland, hingga Kolombia. Ini bukan retorika. Ini peta konflik baru.


Sumber foto: History
funij.com — Periode kedua Donald Trump langsung tancap gas. Dalam operasi malam hari yang mengejutkan dunia, pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dari kompleks superketat di Caracas. Pesannya jelas: era kompromi selesai.
Trump menghidupkan kembali Doktrin Monroe 1823—kini ia rebrand jadi “Donroe Doctrine”—doktrin lama dengan wajah baru. Intinya satu: Hemisfer Barat adalah zona pengaruh Amerika. Titik.
Langkah ini bukan simbolik. Ini blueprint kebijakan luar negeri Trump 2.0.
Iran: “Kalau Mereka Bunuh Rakyatnya, Kami Hantam”
Iran sedang diguncang protes massal. Trump menegaskan AS “mengawasi sangat dekat”.
“Kalau mereka mulai membunuh rakyatnya seperti dulu, mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat.”
Ancaman ini datang setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran tahun lalu—konflik 12 hari yang hampir menyeret Timur Tengah ke perang terbuka.
Dalam pertemuan Trump–Netanyahu di Mar-a-Lago pekan lalu, Iran disebut sebagai agenda utama. Media AS melaporkan opsi serangan lanjutan 2026 sudah di atas meja.
Kenapa penting: harga minyak, stabilitas global, dan risiko perang regional langsung berdampak ke ekonomi dunia—termasuk Indonesia.
Meksiko: Kartel, Tentara AS, dan Dinding Lama
Trump kembali ke isu klasik: narkoba dan imigrasi.
Ia menuduh obat terlarang “mengalir deras” dari Meksiko dan menyebut kartel “sangat kuat”. Bahkan, Trump mengaku siap mengirim pasukan AS ke wilayah Meksiko—opsi yang langsung ditolak Presiden Claudia Sheinbaum.
Di hari pertamanya menjabat, Trump juga menandatangani perintah mengganti nama Teluk Meksiko menjadi “Gulf of America”. Simbol kecil, pesan besar: dominasi.
Kuba: Target Berikutnya Tanpa Perang
Dengan Maduro tumbang, Kuba kehilangan pemasok utama—sekitar 30% pasokan minyaknya berasal dari Venezuela.
Trump menilai Kuba “siap jatuh” tanpa perlu intervensi militer.
“Mereka tidak punya pemasukan lagi. Semuanya dari minyak Venezuela.”
Menlu AS Marco Rubio, anak imigran Kuba, ikut menekan:
“Kalau saya ada di pemerintahan Havana, saya akan mulai khawatir.”
Implikasi: sanksi ekonomi + krisis energi = potensi instabilitas sosial besar di Karibia.
Greenland: Bukan Bercanda, Ini Soal Mineral & Militer
Trump tidak mundur dari obsesinya: Greenland.
Pulau Arktik kaya rare earth—bahan vital untuk ponsel, kendaraan listrik, dan senjata modern. Saat ini, China mendominasi produksi global.
“Kami butuh Greenland demi keamanan nasional,” kata Trump, menyebut wilayah itu dipenuhi kapal Rusia dan China.
PM Greenland Jens Frederik Nielsen menepis keras:
“Tidak ada aneksasi. Ini fantasi.”
Masalahnya: Greenland bagian dari Denmark. Jika AS memaksa, konflik dengan sesama anggota NATO tak terelakkan.
Kolombia: Sekutu Lama, Target Baru
Beberapa jam setelah operasi Venezuela, Trump memperingatkan Presiden Kolombia Gustavo Petro dengan bahasa kasar: “watch your ass.”
Trump menuduh Kolombia “dijalankan oleh orang sakit” dan menjadi pabrik kokain untuk AS. Sanksi sudah dijatuhkan sejak Oktober. Opsi operasi militer?
“Kedengarannya bagus bagi saya,” jawab Trump singkat.
Ironisnya, Kolombia selama puluhan tahun adalah sekutu utama AS dalam perang melawan narkoba, menerima ratusan juta dolar bantuan militer tiap tahun.
Garis Besar yang Tidak Bisa Diabaikan
Trump 2.0 tidak main aman. Ini politik luar negeri agresif, transaksional, dan penuh tekanan langsung.
Bagi dunia—termasuk Indonesia—ini berarti:
Volatilitas global naik
Risiko konflik regional melebar
Harga energi dan komoditas makin sensitif
Diplomasi bergeser ke mode “siapa kuat, dia pegang”
Ini bukan sekadar kebijakan Amerika. Ini perubahan peta kekuasaan global—dan efeknya akan terasa cepat.
