Strategi “Kupas Teritip” Starmer: Fokus Biaya Hidup, Tapi U-Turn Beruntun Menggerus Kredibilitas
Keir Starmer sedang menjalankan playbook lama yang pernah memenangkan Partai Konservatif pemilu Inggris 2015: buang kebijakan tak populer, kunci narasi inti, dan jangan terdistraksi. Masalahnya, di tangan Labour, strategi ini berisiko berubah dari manuver disiplin menjadi sinyal inkonsistensi yang mahal secara politik.


Sumber foto: Wales Online
funij.com — Menjelang pemilu Inggris 2015, arsitek strategi politik asal Australia, Lynton Crosby, merumuskan pendekatan brutal namun efektif bagi Partai Konservatif: “scraping the barnacles off the boat”—mengelupas kebijakan yang menempel seperti teritip dan menghambat laju elektoral. Pesannya sederhana: fokus hanya pada isu yang benar-benar menggerakkan pemilih mengambang. Ekonomi, kesejahteraan, kepemimpinan David Cameron, dan imigrasi. Sisanya? Ditinggalkan. Strategi itu bekerja.
Satu dekade berselang, Keir Starmer tampak mengadopsi pola serupa. Di rapat kabinet, forum internal, hingga panggung media, ia terus memukul satu isu yang sama: biaya hidup. Bahkan ketika dinamika global—dari Venezuela hingga Iran—menarik perhatian, Downing Street memilih untuk tetap on message. Dalam bahasa internal, setiap menit yang tak membahas biaya hidup dianggap pemborosan politik.
Namun, eksekusi strategi ini datang dengan biaya. Sejumlah kebijakan yang menjadi lightning rod ketidakpopuleran pemerintah kini dibalik arah. Yang terbaru dan paling mencolok: rencana kartu identitas digital wajib. Setelah diserang habis-habisan di media sosial dan terjun bebas dalam jajak pendapat—ditambah kekhawatiran biaya serta kompleksitas—pemerintah resmi mundur. Opsi penggunaan dokumen lain untuk pembuktian hak kerja tetap dibuka, tetapi kebijakan inti dikubur.
Langkah itu bukan kasus tunggal. Sebelumnya, pemerintah juga berbalik arah pada pajak warisan bagi petani. Dalam hitungan hari ke depan, tarif bisnis untuk pub diperkirakan menyusul. Bahkan rencana pembatasan persidangan juri kini berada di bawah tekanan berat dari anggota parlemen, House of Lords, dan tokoh senior dunia hukum—berpotensi “diencerkan” demi meredam backlash.
Pemerintah berupaya membedakan isu larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dari gelombang U-turn ini. Seorang menteri menyebutnya sebagai isu yang “perlu dimasuki, bukan dihindari”, sembari menegaskan bahwa London masih mengamati eksperimen Australia. Secara positioning, ini upaya menjaga optionality tanpa terlihat panik.
Secara internal, strategi “teritip” ini mungkin tak pernah dituliskan secara eksplisit. Namun, menurut sumber kabinet, sinyalnya jelas dari Starmer dan lingkaran inti dalam dua pekan terakhir. Fokus tunggal, disiplin pesan, dan alokasi political capital yang lebih selektif. “U-turn bukan ideal, tapi lebih baik daripada mempertahankan kebijakan dengan visibilitas tinggi dan persetujuan rendah,” ujar seorang menteri.
Yang lain sepakat, dengan catatan keras. “Kalau memang harus berubah, lakukan sekarang. Jangan mencicil pembalikan kebijakan minggu demi minggu,” kata menteri lain, mengakui bahwa sejumlah masalah—seperti kartu ID digital—sebenarnya bisa diprediksi. Kebijakan dianggap terburu-buru, lalu berakhir dengan operasi pembersihan besar-besaran.
Di balik pembelaan resmi bahwa fokus biaya hidup bukan sekadar slogan tahun baru, kritik internal tak bisa diredam. Ada yang menyebut rangkaian U-turn sebagai cerminan lemahnya kendali kebijakan—bahkan menggambarkan proses internal sebagai “kekacauan absolut”. Sumber Labour memperingatkan dampak jangka panjang: loyalitas fraksi parlemen terkikis, disiplin melemah, dan keberanian anggota parlemen untuk “bermain sendiri” meningkat.
Jari telunjuk juga mengarah langsung ke perdana menteri. “Ini soal judgment,” kata seorang menteri kabinet. “Masih bisa diselamatkan, tapi kesan pertama ke publik sudah terlanjur buruk.” Masalahnya bukan sekadar nilai, melainkan kompetensi—aset utama yang dijual Labour ke pemilih. Ketika kompetensi itu dipertanyakan, risikonya eksistensial.
Oposisi tak menyia-nyiakan momentum. Pemimpin Konservatif, Kemi Badenoch, dengan cepat mengeksploitasi pembatalan kartu ID digital di PMQs, menyindir bahwa ia merasa “mengatakan hal yang sama setiap minggu”. Ia juga menekan Starmer soal komentar Menteri Kesehatan Wes Streeting: resolusi tahun baru pemerintah seharusnya “benar sejak pertama kali”.
Pelajaran sejarah memberi peringatan. Strategi Crosby pernah sukses, tetapi konteks kini berbeda. Ada pepatah lain dari Crosby yang relevan: you can’t fatten a pig on market day. Dengan pemilihan lokal pada Mei di depan mata, waktu bukan sekutu Starmer. Fokus biaya hidup mungkin tepat secara strategi, tetapi tanpa eksekusi presisi, “mengupas teritip” bisa berubah menjadi narasi pemerintahan yang terlihat ragu, reaktif, dan kehabisan pegangan—sebuah risiko yang terlalu mahal di tahun politik krusial.
