Serangan tikam langka dengan granat asap guncang ibu kota Taiwan; empat tewas, pelaku ikut meninggal

Pada jam pulang kerja di stasiun tersibuk Taiwan, kepanikan menyebar lebih cepat dari asap. Granat asap beterbangan, teriakan pecah, dan sebilah pisau mengakhiri nyawa—sebuah serangan brutal yang jarang terjadi di Taipei, kota yang dikenal aman dan tertib.

Muhamad Rizki Sunarya

12/22/20252 min read

Sumber foto:Theguardian

Sedikitnya empat orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka dalam sebuah serangan tikam massal yang langka di pusat Taipei, Jumat (waktu setempat). Aksi itu dipicu penggunaan granat asap untuk menciptakan kekacauan, sebelum pelaku mengamuk dari Taipei Main Station menuju kawasan perbelanjaan Zhongshan yang ramai.

Pelaku diduga turut tewas setelah terjatuh dari sebuah gedung saat dikejar polisi di distrik belanja yang padat pada Jumat malam, menurut otoritas setempat.

Wali Kota Taipei Chiang Wan-an mengatakan salah satu korban tewas ketika berusaha menghentikan serangan di dalam Taipei Main Station, simpul transportasi terpenting di kota itu.

Profil tersangka dan status hukum

Tersangka digambarkan sebagai pria 27 tahun asal Taoyuan, wilayah di utara Taiwan. Ia dilaporkan pernah menjadi prajurit sukarelawan angkatan udara, bertugas di tim komunikasi radio dekat Bandara Songshan Taipei, sebelum dipulangkan pada 2022.

Perdana Menteri Cho Jung-tai menyebut tersangka memiliki catatan kriminal dan surat perintah penangkapan yang masih berlaku. Media lokal melaporkan ia dicari kejaksaan terkait dugaan menghalangi kewajiban dinas militer pada 2024 karena tidak melapor tugas. Cho menyebut insiden ini sebagai “serangan yang disengaja”, meski hingga Jumat malam motifnya belum diketahui.

Presiden Lai Ching-te dalam pernyataan resminya mengatakan keamanan akan diperketat secara nasional dan menegaskan “tidak akan ada toleransi” terhadap kekerasan semacam ini.

Kronologi: dari stasiun utama ke pusat belanja

Serangan bermula Jumat sore di Taipei Main Station, tepat saat jam sibuk. Tersangka diduga melempar granat asap di dalam stasiun, lalu bergerak ke Zhongshan, kawasan hiburan dan belanja yang ramai hingga larut malam.

Sebuah video warga memperlihatkan pria muda itu berdiri di tengah jalan di luar Stasiun MRT Zhongshan. Ia mengenakan kaus hitam, celana pendek, sepatu kets, masker, serta perlengkapan pelindung. Terlihat senjata lain, termasuk pisau tambahan yang terikat di dadanya.

Dalam rekaman lain, ia tampak mengambil granat asap dari tas di pinggir jalan dan melemparkannya ke arah kerumunan di trotoar, membuat orang-orang menjauh. Ia kemudian berlari ke dalam pusat perbelanjaan, menyabetkan pisau panjang secara acak saat berlari.

Klip terpisah menunjukkan sosok yang sama di dalam Taipei Main Station, mengeluarkan granat asap dari koper beroda dan melemparkannya dengan tenang. Rekaman lain menampilkan stasiun bawah tanah dipenuhi asap dan evakuasi dari sejumlah bangunan.

Pemandangannya mengerikan dan baunya menyengat,” kata seorang warga yang mengunggah video ke media sosial.

Dua pekerja di sebuah gerai makanan cepat saji di sekitar lokasi mengatakan kepada media lokal bahwa mereka mendengar jeritan dan mencium asap. Salah satu dari mereka menuturkan orang-orang berlarian masuk meminta berlindung, dan mereka semua bersembunyi di balik kasir.

Konteks keamanan: jarang, tapi membekas

Kejahatan kekerasan relatif jarang di Taiwan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, serangkaian penusukan di transportasi umum memicu kekhawatiran. Beberapa kereta kini menayangkan video instruksional tentang melumpuhkan penyerang menggunakan payung atau alat pemadam kebakaran.

Pada 2014, seorang mahasiswa membunuh empat orang dan melukai lebih dari 20 dalam penusukan massal di MRT Taipei; pelaku dieksekusi pada 2016. Tahun lalu, tepat satu dekade setelah peristiwa itu, tiga orang terluka dalam penusukan massal di Taichung, kota terbesar kedua Taiwan.

Peralatan dan penyelidikan

Foto-foto media lokal menunjukkan tas terbakar berisi benda yang diduga molotov yang belum digunakan. Granat asap yang terlihat merupakan replika perlengkapan militer AS dan dipasarkan secara daring di Taiwan. Produk tersebut tidak lagi tersedia di laman yang ditinjau media internasional setelah serangan, dan toko afiliasi di platform lain ditutup pada Jumat malam.

Seorang penjual terkemuka mengatakan telah memeriksa catatan penjualan dan tidak menemukan transaksi mencurigakan. Menurutnya, barang-barang itu ditujukan untuk penggunaan legal—seperti kegiatan luar ruang, pelatihan, atau sinyalbukan untuk kekerasan.

Penyelidikan masih berlangsung. Di tengah duka dan pertanyaan yang tersisa, Taipei—kota yang jarang diguncang teror—kini menghadapi ujian baru: menjaga rasa aman warganya tanpa kehilangan keterbukaan yang menjadi cirinya.

Berita Terkait