Rosenior Buka Kartu soal Cole Palmer: Bakat Kelas Dunia, Tapi Prosesnya Bukan Instan

Chelsea punya berlian mahal bernama Cole Palmer. Masalahnya bukan kualitas—melainkan timing. Liam Rosenior menegaskan, membuka potensi penuh sang wonderkid butuh kesabaran, bukan kepanikan.

Muhamad Rizki Sunarya

1/14/20262 min read

a man in a blue shirt is standing in front of a crowd
a man in a blue shirt is standing in front of a crowd
Sumber foto: The Independent

Pelatih Chelsea, Liam Rosenior, menegaskan bahwa publik Stamford Bridge belum melihat versi terbaik dari Cole Palmer. Meski menyebut sang pemain sebagai talenta kelas dunia, Rosenior mengingatkan satu hal krusial: potensi besar tidak selalu meledak secara instan.

Palmer, yang direkrut dari Manchester City pada 2023, langsung memberi dampak signifikan di dua musim awalnya bersama The Blues. Total 43 gol dan 29 assist jadi bukti bahwa Chelsea tidak salah investasi. Namun musim ini ceritanya berbeda. Cedera demi cedera membuat ritme Palmer terganggu, dan konsistensi pun ikut terdampak.

Kini berusia 23 tahun, Palmer baru mencatat empat gol dari 12 penampilan, tanpa satu pun assist. Angka yang jelas berada di bawah standar yang sudah ia setel sendiri.

Rosenior—yang baru saja menggantikan Enzo Maresca—menegaskan pendekatannya bukan soal menghakimi performa masa lalu, melainkan membangun koneksi dan memahami karakter pemainnya.

“Cole itu talenta spesial. Tugas saya adalah mengenalnya, terhubung dengannya, dan memahami apa yang bisa mengeluarkan versi terbaiknya. Dan itu butuh waktu,” ujar Rosenior.

Pelatih asal Inggris itu juga menegaskan tidak tertarik membandingkan Palmer dengan era manajer sebelumnya. Fokusnya satu: unlock the upside.

“Hal yang menakutkan dari Cole adalah dia sudah punya kemampuan kelas dunia, padahal usianya baru 23 tahun. Masih banyak ruang untuk naik level,” lanjutnya.

Palmer absen saat Chelsea membantai Charlton 5-1 di Piala FA akhir pekan lalu. Keputusan itu murni preventif, mengingat ia sempat bermasalah dengan pangkal paha dan cedera ringan di kaki. Rosenior sendiri akan mengambil keputusan kebugaran Palmer menjelang leg pertama semifinal Carabao Cup melawan Arsenal.

Menariknya, Rosenior memberi sinyal akan memaksimalkan fleksibilitas Palmer di lapangan. Bukan dikotakkan, tapi dibebaskan.

“Pemain bagus bisa bermain di mana saja. Saya pernah melihat Cole sebagai false nine, winger kanan, kiri, bahkan nomor 10. Dia pemain kelas dunia. Saya ingin memberinya lisensi untuk melakukan apa yang dia cintai: mencipta dan mencetak gol.”

Musim lalu, performa Palmer memang sempat menurun di paruh kedua kompetisi. Setelah mencetak 14 gol dalam 21 laga Premier League, ia hanya menambah satu gol dari 26 pertandingan berikutnya di semua ajang—sebelum akhirnya bangkit dan membantu Chelsea menjuarai Piala Dunia Antarklub.

Kesimpulannya jelas: Chelsea tidak kekurangan talenta, mereka hanya perlu kesabaran dan manajemen ekspektasi. Di bawah Rosenior, Cole Palmer bukan proyek instan. Dia adalah investasi jangka panjang dengan potensi return yang, jika meledak, bisa sangat brutal.

Bola Terkait