Michael Carrick Take Over Manchester United: Saatnya Setan Merah Pull Together dan Reset Ambisi

Old soldier, new mission. Manchester United kembali ke mode darurat, dan Michael Carrick jadi sosok yang dipercaya untuk menstabilkan kapal yang oleng hingga akhir musim.

Muhamad Rizki Sunarya

1/14/20262 min read

a man in a suit and tie is holding a fist
a man in a suit and tie is holding a fist
Sumber foto: DetikSports

Manchester United resmi menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih kepala interim hingga akhir musim, Selasa malam waktu setempat. Mandatnya jelas, singkat, dan tanpa basa-basi: menyatukan semua elemen klub demi mengembalikan jalur kesuksesan yang sempat keluar rel.

Carrick bukan wajah baru di Old Trafford. Mantan gelandang yang mengabdi selama 12 tahun itu datang dengan DNA klub, kredibilitas ruang ganti, dan pemahaman internal—aset krusial di tengah situasi krisis performa. Ini menjadi periode keduanya memimpin tim utama, setelah sebelumnya menangani tiga laga pada 2021 pasca pemecatan Ole Gunnar Solskjær.

Untuk memperkuat struktur, Carrick membawa Steve Holland, eks asisten timnas Inggris, serta Jonathan Woodgate. Mereka melengkapi jajaran staf yang sudah ada: Jonny Evans, Travis Binnion, dan Craig Mawson. Ini bukan sekadar reshuffle—ini strategic reset dengan orang-orang yang paham kultur dan tuntutan Manchester United.

Proses penunjukan Carrick dipimpin direktur sepak bola Jason Wilcox, menyusul pemecatan Ruben Amorim akibat rentetan hasil buruk dan friksi dengan jajaran petinggi klub. United menginginkan sosok yang pernah hidup di dalam ekosistem klub. Carrick dan Solskjær masuk shortlist, namun Carrick jadi pilihan utama berkat kepemimpinan dan knowledge terhadap skuad yang tersedia.

“Memimpin Manchester United adalah sebuah kehormatan,” ujar Carrick.
“Saya tahu standar yang dibutuhkan untuk sukses di sini. Fokus saya sekarang memastikan para pemain mencapai level yang seharusnya—karena mereka lebih dari mampu.”

Carrick menegaskan keyakinannya terhadap kualitas dan komitmen skuad. Menurutnya, musim ini belum selesai—masih ada target yang bisa dikejar dan harga diri yang harus dipertahankan.

“Kami siap menyatukan semua pihak dan memberikan performa yang pantas untuk fans yang selalu setia.”

Secara rekam jejak, Carrick pensiun pada 2018 lalu dan langsung masuk staf pelatih José Mourinho, bertahan hingga era interim Ralf Rangnick. Karier kepelatihannya berlanjut di Middlesbrough selama dua setengah musim, sebelum berpisah usai finis di peringkat 10 Championship musim lalu.

Wilcox menegaskan keputusan ini bukan langkah reaktif, melainkan calculated move.

“Michael adalah pelatih top dan paham betul bagaimana cara menang di Manchester United. Dia siap memimpin grup pemain yang bertalenta dan lapar untuk sisa musim ini.”

Sementara itu, Darren Fletcher—yang sempat menangani laga kontra Burnley dan Brighton—kembali ke perannya sebagai pelatih kepala U-18. Manajemen menilai performanya impresif, namun jalur pengembangan terbaiknya tetap berada di akademi.

Bottom line: Manchester United sedang kembali ke basic—ke orang yang mengerti klub, tekanan, dan ekspektasi. Carrick bukan solusi jangka panjang, tapi untuk sekarang, dia adalah stabilisator yang paling masuk akal. Mode survival aktif. Semua harus pull together.

Bola Terkait