krisis Old Trafford
13 Tahun. 10 Manajer. Satu Kutukan yang Tak Pernah Putus


Sumber foto: Instagram
Manchester, Inggris — Data tidak punya emosi. Dan data Manchester United pasca-2013 adalah alarm merah yang tak pernah berhenti berbunyi. Sejak Sir Alex Ferguson resmi turun tahta, 10 manajer telah berguguran. Hasilnya nihil: tak satu pun mampu mengembalikan United ke level elite Eropa.
Kini, Darren Fletcher kembali disebut-sebut sebagai caretaker berikutnya. Bukan solusi. Sekadar damage control.
Daftar Panjang Kegagalan di Kursi Panas Old Trafford
Era pasca-Ferguson bukan fase transisi. Ini adalah studi kasus kegagalan struktural.
❌ David Moyes — The Chosen One versi SAF, tumbang sebelum satu musim penuh
❌ Ryan Giggs (interim) — Legenda, tanpa fondasi manajerial
❌ Louis van Gaal — FA Cup didapat, identitas permainan ditinggalkan
❌ José Mourinho — Tiga trofi, tapi ruang ganti hancur
❌ Ole Gunnar Solskjær — Nostalgia tak pernah jadi strategi
❌ Michael Carrick (interim) — Sekadar penahan waktu
❌ Ralf Rangnick — Eksperimen struktural yang gagal total
❌ Erik ten Hag — Dua trofi domestik, tetap jadi korban sistem
❌ Ruud van Nistelrooy (interim) — Simbol kepanikan, bukan perencanaan
❌ Ruben Amorim — Honeymoon phase singkat, realita kejam datang cepat
Sepuluh nama. Sepuluh pendekatan. Satu kesimpulan yang sama: mentok.
Ini Bukan Soal Manajer. Ini Soal Sistem
Jika satu manajer gagal, itu nasib.
Jika sepuluh manajer gagal, itu salah kelola.
Masalah utama Manchester United ada di level boardroom, bukan touchline:
❌ Visi jangka panjang tidak konsisten
❌ Rekrutmen pemain reaktif, bukan strategis
❌ Filosofi klub berubah tiap musim
❌ Ekspektasi besar tanpa fondasi operasional
Hasilnya? Lingkaran setan: ganti manajer → beli pemain → gagal → ulangi.
Apakah Darren Fletcher Akan Jadi Nama ke-11?
Fletcher mungkin memahami DNA klub. Tapi DNA tanpa struktur hanya akan melahirkan korban baru.
Pertanyaan besarnya bukan siapa manajernya, tapi:
Siapa yang berani merombak sistem Manchester United dari akar?
Karena selama Old Trafford masih dikelola tanpa arah strategis yang jelas, siapa pun yang duduk di bangku manajer hanya sedang menunggu giliran.
