Caracas Mencekam: Air Mata, Antrean Panjang, dan Ketidakpastian Pasca-Serangan AS ke Venezuela

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, militer Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran di Amerika Selatan. Bagaimana reaksi warga di jalanan Caracas?

Muhamad Rizki Sunarya

1/5/20261 min read

Sumber foto: Erakini

CARACAS – Tidak ada perayaan. Tidak ada sorak kemenangan. Yang ada hanya antrean panjang di depan supermarket, dan wajah-wajah cemas yang memborong tepung, susu, dan mentega.

Dua puluh empat jam setelah serangan AS yang mengguncang Venezuela, jalanan Caracas dipenuhi pusaran emosi yang saling bertabrakan.

"Siapa Sangka Negara Kami Dibom Saat Semua Tertidur?"

Griselda Guzmán, pensiunan berusia 68 tahun, menahan tangis sambil menggenggam tangan suaminya di luar toko kelontong.

"Ketidakpastian," katanya dengan suara bergetar.

Di sisi lain kota, Sauriany (23), pegawai administrasi perusahaan listrik negara, memberikan jawaban berbeda: "Kemarahan."

Pasangannya, Leandro (24), berdiri di antrean yang terdiri dari 100 orang—termasuk empat biarawati—dengan ekspresi tak percaya.

"Siapa yang bisa membayangkan ini terjadi? Bahwa di awal tahun, negara kami dibom saat semua orang masih tertidur?"

Namun komentar Leandro berikutnya mungkin merangkum dilema terbesar yang dihadapi rakyat Venezuela:

"Kalau ini bisa memperbaiki negara, saya akan menyambutnya. Tapi saya tidak percaya itu akan terjadi. Kalau mereka ingin perdamaian, ini bukan caranya."

32 Warga Kuba Tewas: Bukti Keterlibatan Havana?

Pemerintah Kuba mengumumkan bahwa 32 warga negaranya tewas dalam operasi militer AS tersebut.

Menurut pernyataan resmi yang dibacakan di televisi negara Kuba pada Minggu malam, para perwira militer dan polisi Kuba berada di Venezuela atas permintaan resmi pemerintah Caracas.

Pemimpin revolusioner Raúl Castro dan Presiden Miguel Díaz-Canel mengirimkan belasungkawa kepada keluarga korban. Identitas dan jabatan para korban belum diungkapkan.

Menlu AS Marco Rubio—yang merupakan putra imigran Kuba—tidak menyia-nyiakan momen ini.

"Seluruh aparat keamanan internal Maduro dikepalai oleh orang Kuba. Semua pengawal yang melindungi Maduro—ini sudah rahasia umum—seluruh badan intelijen mereka, semuanya dipenuhi orang Kuba. Mereka yang menopang Maduro tetap berkuasa."

Apa Artinya Bagi Kawasan?

Serangan ini menandai babak baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah geopolitik Amerika Latin. Bagi Indonesia—negara yang juga memiliki hubungan diplomatik dengan Venezuela dan Kuba—perkembangan ini perlu dicermati dengan seksama.

Pertanyaannya kini: apakah ini awal dari stabilitas, atau justru spiral kekerasan yang lebih dalam?

Perkembangan terus dipantau.

Berita Terkait