AS Tangkap Maduro, Alarm Taiwan Ikut Menyala
Satu operasi militer semalam. Satu pemimpin negara diseret ke pengadilan New York. Dan ribuan kilometer jauhnya, Taiwan langsung menghitung ulang risiko hidup-mati mereka.


Sumber foto: TheGuardian
funij.com — Amerika Serikat akhir pekan lalu membuka detail operasi kilat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Serangan mendadak, kepemimpinan runtuh, dan Maduro kini menghadapi proses hukum di AS. Eksekusi cepat. Tanpa basa-basi. Tanpa perlawanan berarti.
Bagi Taiwan, ini bukan sekadar berita luar negeri. Ini skenario yang terasa terlalu dekat.
China—raksasa dengan 1,4 miliar penduduk dan angkatan bersenjata terbesar di dunia—sudah lama menaruh Taiwan dalam peta ambisi strategisnya. Pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu secara de facto mandiri, tapi secara geopolitik selalu berada di bawah bayang-bayang Beijing. Relasinya timpang. Mirip AS versus Venezuela: satu superpower, satu negara yang bergantung pada dukungan sekutu.
Di China, narasi langsung dipanaskan. Sejumlah komentator membandingkan operasi AS di Venezuela dengan potensi serangan ke Taiwan. Tapi elite Beijing buru-buru memutus benang itu. Bagi China, Taiwan bukan isu internasional—ini urusan domestik. Titik.
“Beijing tidak pernah menahan diri karena hukum internasional,” kata Ryan Hass, mantan diplomat AS dan peneliti Brookings. “Strateginya jelas: tekanan maksimal tanpa perang terbuka.”
Nada serupa datang dari Shanghai. Akademisi senior Shen Dingli menegaskan hubungan lintas-Selat tidak relevan dibandingkan kasus Venezuela. Bahkan di Weibo, suara nasionalis ramai-ramai menolak perbandingan. Pesannya satu: don’t mix it up.
Namun faktor penentu sesungguhnya bukan retorika, melainkan kekuatan militer di Selat Taiwan.
Pekan lalu, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China menggelar latihan besar-besaran di sekitar Taiwan. Simulasi blokade. Uji kesiapan. Sinyal keras ke luar negeri. Pentagon menilai PLA menargetkan kesiapan penuh pada 2027 untuk meraih “kemenangan strategis menentukan”, didukung AI militer, bioteknologi, dan rudal hipersonik.
Tapi menariknya, respons di Taiwan justru tidak panik.
Sebagian analis di Taipei melihat operasi AS di Venezuela sebagai double-edged signal bagi Beijing. Bukan ancaman, melainkan peringatan. Venezuela adalah pembeli besar senjata China. Hampir 90% ekspor senjata China ke Amerika Latin (2010–2020) mengalir ke Caracas. Tapi semua itu gagal menghentikan AS.
“Kenapa militer AS bisa masuk seperti tidak ada yang menjaga?” ujar Lin Ying Yu, dosen Universitas Tamkang. Ia menyinggung reputasi senjata buatan China yang sempat naik daun usai konflik udara India–Pakistan. “Sekarang interpretasinya berubah.”
Kasus Maduro mengirim satu pesan keras ke Asia Timur: teknologi, aliansi, dan kecepatan eksekusi menentukan segalanya.
Bagi Taiwan, ini bukan soal Venezuela. Ini soal apakah dukungan AS benar-benar nyata saat krisis datang.
Dan bagi publik global, satu hal jelas—peta kekuatan dunia sedang dites, live, tanpa filter.
